ETOS KERJA MUSLIM INDONESIA

ETOS KERJA MUSLIM INDONESIA

 Tri Cahya Wahyu M.

Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstrak

Salah satu realitas di negeri ini, bahwa sebagian dari umat muslim di Indonesia banyak yang masih menyepelekan dalam hal pekerjaan.  Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya sebagian warga muslim yang menjadi pengangguran di negara ini, akibatnya dari pengangguran itulah banyak dari mereka yang menjadi  pengemis, pencuri, dan lain sebagainya, segala hal akan mereka lakukan hanya untuk kepentingan hidup dirinya sendiri, yang pada akhirnya membuat mereka menjadi sosok pemalas.  Hal ini tentu berpengaruh pula terhadap kemajuan produktifitas bangsa ini, yang terkenal akan hasil alamnya yang melimpah.  Saat ini seorang muslim bukan hanya menyepelekan pentingnya sebuah pekerjaan, tetapi kini banyak dari pada muslim itu sendiri yang menyalahgunakan sebuah pekerjaan hanya untuk alat pemuas bagi dirinya sendiri, keluarganya, maupun kelompok/instansinya.  Jika kita tengok ke belakang betapa banyak dari sebagian para pejabat maupun pemimpin di negeri ini yang mengaku bahwa dirinya seorang muslim tetapi perilaku mereka mencerminkan bahwa dirinya bukan seorang muslim.  Mereka tidak mempunyai hati dan akal untuk merubah keterpurukan negeri ini, mereka malah sibuk untuk mengurusi urusan perut mereka sendiri.  Sikap dan perilaku seorang muslim inilah yang perlu diperbaiki agar bangsa ini kemudian menjadi bangsa yang kembali disegani oleh bangsa lain.

 

Kata kunci:  etos kerja, pekerjaan, muslim

 

Pendahuluan

 

Dalam kehidupan pada saat sekarang ini, setiap manusia dituntut untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.  Dengan bekerja seseorang akan menghasilkan uang, dengan uang tersebut seseorang dapat membelanjakan segala kebutuhan sehari-hari hingga akhirnya ia dapat bertahan hidup.  Akan tetapi dengan bekerja saja tidak cukup, perlu adanya peningkatan, motivasi, dan niat.

Setiap pekerja, terutama yang beragama Islam, harus dapat menumbuhkan etos kerja secara Islami, karena pekerjaan yang ditekuni dinilai sebagai sebuah ibadah. Hasil yang diperoleh dari pekerjaannya juga dapat digunakan untuk kepentingan ibadah, termasuk di dalamnya menghidupi ekonomi keluarga. Oleh karena itu seleksi memililih pekerjaan menumbuhkan etos kerja yang islami menjadi suatu keharusan bagi semua pekerjaan.  Adapun etos kerja yang islami tersebut adalah: niat ikhlas karena Allah semata, kerja keras dan memiliki cita-cita yang tinggi

                Etika atau etos berarti watak, kesusilaan, sikap, kepribadian, adat serta keyakinan dalam melakukan suatu hal.  Sikap ini tidak hanya dimiliki oleh Individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat yang dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang diyakininya.  Dalam Islam etika/ ethos dianggap sebagai akhlak (budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat seseorang) yakni tingkah laku atau perlakuan manusia ke arah kebaikan dan kemanfaatan hidup.  Dalam Islam pengertian dari  definisi kerja dapat dibagi dalam dua bagian.  Pertama, kerja dalam arti umum yaitu semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik dalam hal materi atau non materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan dan keakhiratan.  Kedua, kerja dalam arti sempit ialah kerja untuk memenuhi tuntutan hidup manusia berupa sandang, pangan dan papan yang merupakan kebutuhan bagi setiap manusia dan muaranya adalah Ibadah.  Lantas, Bagaimana dengan etos kerja muslim Indonesia saat ini?

Telah banyak orang tau bahwa negara Indonesia kini adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.  Tidak selayaknya warga muslim di negeri ini hanya mengandalkan uluran tangan orang lain dalam kehidupannya.  Walaupun urusan dunia merupakan perkara yang paling banyak menyita perhatian umat manusia, sehingga banyak dari mereka menjadi budak dunia, bahkan yang lebih parah lagi, sejumlah besar Umat Islam memandang bahwa berpegang dengan ajaran Islam akan mengurangi peluang mereka dalam mengais rizki. Ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapat kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian aturan islam terutama yang berkenaan dengan etika bisnis dan hukum halal haram.  Hal inilah yang perlu dihilangkan dalam pandangan setiap muslim bukan hanya di Indonesia, tetapi pada diri setiap muslim di dunia islam.

Etos Kerja Islami 

Etos kerja Islami adalah akhlak dalam bekerja sesuai dengan nilai-nilai islam sehingga dalam melaksanakannya tidak perlu lagi di pikir-pikir karena jiwanya sudah meyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar.

Toto Tasmara (1991) mengatakan bahwa semangat kerja dalam Islam kaitannya dengan niat semata-mata bahwa bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menggapai ridha Allah, sebab itulah dinamakan jihad fiisabilillah.

Kunci etos kerja Islam adalah memberikan kebebasan individu untuk memilih sektor kerja menurut kemampuannya. Setiap orang bebas mempergunakan haknya untuk memilih mana yang terbaik untuk melakukan suatu  kebajikan. Kebebasan itu telah menjadi modal awal setiap individu untuk memperkuat etos kerja.

Islam sebagai sebuah agama memandang masalah kerja sebagai hal yang penting. Salah satu bagian dari syari’at Islam adalah kewajiban bekerja, dan keharaman berpangku tangan serta bermalas-malasan bagi orang yang berkemampuan untuk bekerja. Firman Allah SWT dalam Qur’an surat At-Taubat: 105:

وَقُلِ اِعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَسَتُرَدُوْنَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَهَادَةِ فَيُنَبِئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang yang mu’min, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Menurut Toto Tasmara (1991) etos kerja muslim di definisikan sebagai cara pandang yang diyakini oleh seorang muslim bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur.

Etos kerja islami

Akhlak dan nilai islam

Halal dan Haram

Kunci etos kerja islami

Tujuan Umum Bekerja

Ada beberapa tujuan orang bekerja antara lain untuk mendapatkan nafkah.  Dengan itu, orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sandang, pangan dan papan selain itu juga untuk membiayai pemeliharaan kesehatan.  Dalam pandangan Islam, kebutuhan bisa diartikan sebagai hasrat manusia yang perlu dipenuhi atau dipuaskan.  Kebutuhan bermacam-macam dan bertingkat-tingkat, namun secara umum dapat dibagi dalam tiga jenis sesuai dengan tingkat kepentingannya, yaitu: primer, sekunder, dan tersier.

Tujuan kerja

Tingkat Kebutuhan secara umum :

1. primer

2. sekunder

3. tersier

Kebutuhan

Tingkat Kebutuhan

Fungsi dan Tujuan Etos Kerja

Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi etos kerja adalah:

  1. Pendorong timbulnya perbuatan.
  2. Penggairah dalam aktivitas.
  3. Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan.

Kerja merupakan perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W.J.S Purwadaminta, kerja berarti melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan.   Kerja memiliki arti luas dan sempit dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik, mengenai keduniaan maupun akhirat. Sedangkan dalam arti sempit, kerja berkonotasi ekonomi yang persetujuan mendapatkan materi.  Jadi,  pengertian etos adalah karakter seseorang atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan dalam bekerja yang disertai semangat yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita.

Etos Kerja

Fungsi Etos Kerja

Kerja

Fungsi Etos Kerja menurut A. Tabrani :

1. Pendorong timbul- nya perbuatan.

2. Penggairah dalam aktivitas

3. Penggerak motivasi dalam suatu perbuatan

Secara arti

Mewujudkan cita-cita

Luas

Sempit

Islam Mencela Pemalas dan Peminta-minta

Islam sangat mencela pemalas dan membatasi ruang gerak peminta-minta serta mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup dengan orang lain, akan tetapi Al Quran sangat memuji orang yang bersabar dan menahan diri dengan tidak meminta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan kemunduran dalam kehidupan.

Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi kemalasan, bersemangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam menutupi kebutuhan, dan rajin bekerja demi memelihara masa depan anak agar mampu hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain, sebab pemalas yang menjadi beban orang dan pengemis yang menjual harga diri merupakan manusia paling tercela dan sangat dibenci oleh Islam seperti yang telah ditegaskan dalam sebuah hadits dari Abdullah Ibnu Umar bahwasannya Nabi bersabda : Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil dagingpun (H.R Bukhari, Muslim).

Islam tidak membiarkan seorang muslim kebingungan dalam berusaha mencari nafkah, bahkan islam telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika mulia agar umat muslim mencapai kesuksesan dalam mengais rizki, membukakan pintu kemakmuran, dan keberkahan. Kegiatan usaha dalam pandangan Islam memiliki kode etik dan aturan, jauh dari sifat tamak dan serakah sehingga mampu membentuk sebuah usaha yang menjadi pondasi masyarakat madani dan beradab.

Kesimpulan 

Seharusnya kaum muslim khususnya di Indonesia memiliki etos kerja tinggi.  Mengapa? Karena Islam mengajarkan agar umatnya memiliki etos kerja yang sangat hebat dengan senantiasa menciptakan produktivitas, kreatifitas, dan progresifitas di berbagai bidang dalam kehidupan ini.

Rasullullah SAW pernah bersabda bahwa : “barangsiapa yang hari Ini lebih baik dari hari kemarin maka sesungguhnya dia telah beruntung dan  barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat”. Sangat jelas dalam hadits ini bahwa Rasulullah SAW mendorong umat Islam untuk menjadi produsen dari sebuah kemajuan.

Oleh sebab itu setiap pekerjaan adalah amal, dan Islam mengarahkan setiap orang untuk berbuat atau melakukan suatu amal (pekerjaan) yang berkualitas (shalih).  Tidak sepatutnya lagi seorang muslim menjadikan suatu pekerjaan hanya untuk alat pemuas bagi dirinya saja, pekerjaan merupakan kebutuhan dan kewajiban kita sebagai umat muslim , bahkan amal (pekerjaan) adalah suatu hal yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW dan tidak selayaknya seorang muslim hanya berpangku tangan dan mengharapkan belas kasihan orang lain.  Islam telah mengajarkan kita untuk bekerja keras dalam menjalani hidup.

Seorang muslim dalam bekerja selayaknya senantiasa untuk berniat mencari fadhilah karunia Allah SWT, menjebol kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan martabat serta harga diri.  Pekerjaan bukan sebagai alat bagi seorang muslim untuk memperkaya diri karena masih banyak dari mereka yang masih memerlukan uluran tangan kita diluar sana.  Islam juga telah mengatur tentang pembagian harta, dengan adanya perintah zakat diharapkan umat muslim bisa saling berbagi karena inti dari zakat adalah mensucikan diri karena dari sebagian harta yang kita peroleh, dari harta yang kita miliki itulah secara tidak kita sadari terdapat sebagian harta milik orang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Toto Tasmara, Etos Kerja Muslim, Jakarta: Labmend, 1991.

Al-Qur’an dan Terjemah Surat At-Taubat : 105.

Musa Asy’arie Islam. Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Ummat, Yogyakarta: Lesfi, 1997.

W.J.S .Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:Balai Pustaka, 1976.

A. Tabrani Rusyan, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: CV Remaja Rosdakarya, 1989.

H.R Bukhari, Muslim dan Nasai dalam sunahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s