Diskursus Aliran-aliran Teologi Klasik

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemunculan persoalan aliran-aliran dalam islam pada awalnya dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan ‘Utsman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Mu’awiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib mengkristal menjadi perang Siffin yang berakhir pada keputusan tahkim (arbitrase).  Sikap Ali yang menerima tipu muslihat  Amr bin Al-Ash, utusan dari pihak Mu’awiah dalam peristiwa tahkim, sungguhpun dalam keadaan terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka memandang Ali bin Abi Thalib telah berbuat salah  sehingga mereka meninggalkan barisannya. Dan mereka inilah yang disebut dengan Khawarij dan menjadi aliran Khawarij.

Apa yang terjadi antara para sahabat r.a. berupa berbagai peperangan dan perselisihan semuanya berlangsung setelah masa nabi Saw. dan masa khalifah yang tiga. Semuanya itu berlangsung hanya pada masa Ali ibnu Abi Tholib, tidak pada semua masa khalifah Rasyidin, dan lebih khusus lagi hanya terjadi pada sebagian kecil periode kekhalifahannya. Konflik, perselisihan, dan peperangan terjadi karena pada dasarnya mereka mnginginkan kebenaran dan bersemangat membela kebenaran meskiun mesti mengorbankan harta dan jiwa demi terwujudnya kebenaran serta hilangnya kebathilan.

Mereka yang tetap mendukung Ali disebut Syiah dan menjadi aliran Syiah. Sedangkan sekelompok kaum yang tidak mendukung maupun menolak ke dua golongan tersebut baik kelompok Ali maupun kelompok Muawiyah dan mereka beranggapan segala hukum dikembalikan kepada Allah, kelompok ini disebut dengan Murji’ah. Mutazilah sendiri baru muncul setelah ke tiga golongan ini. Semua golongan ini mempunyai latar belakang dan pemikiran yang berbeda-beda bahkan bertolak belakang. Sasaran perbedaan yang pertama mengenai politik islam berimbas kepada permasalahan akidah, bahkan ketauhidan sendiri menjadi ajang perdebatan.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apa saja aliran-aliran teologi pada masa klasik ?
  2. Apa perbedaan mendasar masing-masing aliran ?
  3. Bagaimana sejarah masing-masing aliran ?

1.3  Tujuan

Setiap mahasiswa dapat mengetahui :

  1. Aliran-aliran teologi islam pada masa klasik.
  2. Perbedaan mendasar dari masing–masing aliran.
  3. Sejarah dari masing-masing aliran. 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Aliran Syiah

Syiah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini Ali bin Abi Talib dan keturunannya sebagai pemimpin Islam setelah Nabi saw.[[1]] wafat. Para penulis sejarah Islam berbeda pendapat mengenai awal mula golongan syiah. Sebagian menganggap Syiah lahir setelah Nabi Muhammad saw. wafat, yaitu pada suatu perebutan kekuasaan antara kaum Muhajirin dan Anshar.

Pendapat yang paling popular tentang lahirnya golongan Syiah adalh setelah gagalnya perundingan antara Ali bin Abi Talib a Mu’awiyah bin Abi Sufyan di Siffin. Perundingan ini diakhiri dengan tahkim atau arbitrasi.[[2]] Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan Ali memberontak terhadap kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali. Mereka itu disebut golongan Khawarij atau orang-orang yang keluar, sedangkan sebagian besar pasukan yang tetap setia kepada Ali disebut Syiah atau pengikut Ali.

Beberapa sekte aliran Syiah, di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Sekte Kaisaniyah

Kaisiniyah adalah sekte Syiah yang mempercayai Muhammad bin Hanafiah sebagai pemimpin setelah Husein bin Ali wafat. nama Kaisaniyah diambil dari nama seorang budak Ali yang bernama Kaisan.

  1. 2.      Sekte Zaidiah

Sekte ini mempercayai kepemimpinan Zaid bin Ali bin Husein Zainal Abidin sebagai pemimpin setelah Husein Bin Ali wafat. dalam Syiah Zaidiyah, seseorang dapat diangkat sebagai imam apabila memenuhi lima kriteria. Kelima kriteria itu adalah keturunan Fatimah binti Muhammad saw. berpengatuhan luas tentang agama, hidupnya hanya untuk beribadah, berjihad di jalan Allah dengan mengangkat senjata, dan berani. Selain itu sekte ini mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

  1. 3.      Sekte Imamiyah

Sekte ini adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw. telah menunjuk Ali bin Abi Thalib menjadinpemimpin atau imam sebagai pengganti beliau dengan petunjuk yang jelas dan tegas. Oleh karena itu, sekte ini tidak mengakui kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Sekte Imamiyah pecah menjadi beberapa golongan. Golongan terbesar adalah golongan Isna Asy’ariyah ata Syiah Duabelas. Golongan kedua terbesar adalah golongan Ismailiyah.

B. Aliran Khawarij

Pengertian

(Arab: خوارج baca Khowaarij, secara harfiah berarti “Mereka yang Keluar”) ialah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Tholib, lalu menolaknya.[[3]] Pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, terpusat di daerah yang kini ada di Irak selatan, dan merupakan bentuk yang berbeda dari Sunni dan Syi’ah.

Disebut atau dinamakan Khowarij disebabkan karena keluarnya mereka dari dinul Islam dan pemimpin kaum muslimin.

Awal keluarnya mereka dari pemimpin kaum muslimin yaitu pada zaman Amirul Mu’minin Al Kholifatur Rosyid Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه ketika terjadi (musyawarah) dua utusan. Mereka berkumpul disuatu tempat yang disebut Khouro (satu tempat di daerah Kufah). Oleh sebab itulah mereka juga disebut Al Khoruriyyah. (Mu’jam Al-Buldan li Yaqut Al-Hamawi juz 2 hal. 245).

Menurut  keyakinan Khawarij, semua masalah antara Ali dan Mu’awiyah harus diselesaikan dengan merujuk kepada hukum-hukum Allah yang tertuang dalam Surah al-Maidah Ayat 44 yang artinya, Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir”. Berdasarkan ayat ini, Ali, Mu’awiyah dan orang-orang yang menyetujui tahkim telah menjadi kafir karena mereka dalam memutuskan perkara tidak merujuk Al-Qur’an.[[4]]

Dalam aliran Khawarij terdapat enam sekte penting, yaitu al-Muhakkimah, al-Azariqah, an-Najdat, al-Ajaridah, asy-Syufriyah dan al-Ibadiyah.

Doktrin-Doktrin Khawarij

Di antara doktrin-doktrin pokok khawarij adalah sebagai berikut :

  1. Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat islam
  2. Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab
  3. Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syari’at islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau harus melakukan kezaliman.
  4. Khalifah sebelum Ali r.a (Abu Bakar, Umar dan Utsman) adalah sah, tetapi setelah 7 tahun dari masa kekhalifahannya, Utsman dianggap telah menyeleweng.
  5. Khalifah Ali adalah sah, tetapi setelah terjadi arbitrase (tahkim), beliau dianggap telah menyeleweng.
  6. Pasukan perang Jamal yang melawan Ali juga kafir.
  7. Menjatuhkan hukum musyrik kepada anak-anak kaum musyrikin, dan bahwa mereka juga kekal di dalam neraka bersama orang tuanya.
  8. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. Bahkan yang sangat anarkis (kacau) lagi, mereka menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan juga.uruk harus masuk ke neraka
  9. Boleh membunuh perempuan dan anak-anak kaum muslimin yang berbeda pendapat dengan mereka.
  10. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi karena hidup dalam dar al-harb (negara musuh), sedang golongan mereka sendiri dianggap berada dalam dar al-islam (negara Islam).
  11. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
  12. Adanya Wa’ad dan Wa’id (orang baik harus masuk surga, orang jahat harus masuk neraka).
  13. Adanya Amar ma’ruf Nahi Munkar
  14. Memalingkan yat-ayat al-Qur’an yang tampak mutasayabihat.
  15. Quran adalah makhluk
  16. Manusia bebas memutuskan perbuatannya, bukan dari Tuhan.
  1. C.    Aliran Murji’ah

Aliran ini disebut juga Murji’ah karena dalam prinsipnya mereka menunda persoalan konflik antara Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan kaum Khawarij pada hari perhitungan kelak.[[5]] Oleh karena itu,  mereka tidak ingin smengeluarkan pendapat entang siapa syang benar dan dan siapa yang kafir di antara ketiga kelompok yang bertikai itu.

Dalam perkembangannya, aliran initernyata tidak dapat melepaskan diri dari persoalan teologis yang muncul pada waktu itu.ketika itu terjadi perdebatan mengenai hukum orang yang berdosa besar. Kaum Murji’ah berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak dapat dikatakan kafir selama ia tetap mengakui Allah sebagai Tuhannya dan Nabi Muhammad saw. sebagai rasul. Pendapat ini merupakan lawan dari pendapat kaum Khawarij yang menyatakan bahwa orang Islam yang berdosa besar hukumnya kafir[[6]].

Dalam perjalanan sejarahnya, aliran ini aliran ini terpecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok moderat dan kelompok ekstrem. Tokoh-tokoh kelompok moderat adalah Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah dan Abu Yusuf. Kelompok ekstrem terbagi dalam beberapa kelompok, diantaranya adalah al-Jahamiyah, as-Salihiyah, al-Yunusiyah, al-Ubaidiyah, al-Gailaniyah, as-Saubariyah, al-Marisiyah dan al-Karamiyah.[7]

Sementara itu, Abu A’la al-Maududi menyebutkan 2 doktrin pokok ajaran Mur’jiah, yaitu

  1. Iman adalah percaya kepadaAllah dan Rasul-Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardhukan dan melakukan dosa besar.
  2. Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman, setiap maksiat tidak dapat mendatangkan mudharat ataupun gangguan atas seseorang untuk mendapatkan pengampunan, manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.
  1. D.    Aliran Mutazilah

 

Latar Belakang

Aliran ini muncul sebagai reaksi atas pertentangan antar aliran Khawarij dan aliran Murji’ah mengenai persoalan orang mukmin yang berdosa besar. Menghadapi dua pendapat ini, Wasil bin Ata yang ketika itu menjadi murid Hasan al-Basri, seorang ulama terkenal di Basra, mendahuli gurunya dalam mengeluarkan pendapat. Wasil mengatakan bahwa orang mukmin yang berdosa besar menempati posisi antara mukmin dan kafir. Tegasnya, orang itu bukan mukmin dan bukan kafir.

Aliran Mu’tazilah merupakan golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mandalam dan bersifat filosofis. Dalam pembahasannya mereka banyak memakai akal sehingga mendapat nama “kaum rasionalis Islam”.[8]

Setelah menyatakan pendapat itu, Wasil bi Ata meninggalkan perguruan Hasan al-Basri, lalu membentuk kelompok sendiri. Kelompok ini dikenal dengan Muktazillah. Pada awal perkembangannya aliran ini tidak mendapat simpati umat Islam karena ajaran Muktazillah sulit dipahami oleh beberapa kelompok masyarakat. Hal itu disebabkan ajarannya bersifat rasional dan filosofis. Alas an lain adalah aliran Muktaszillah dinilai tidak berpegang teguh pada sunnah Rasulullah SAW dan para sahabat. Aliran baru ini memperoleh dukungan pada masa pemerintahan Khalifah al-Makmun, penguasa Bani Abbasiyah.

 Doktrin Mutazilah

Aliran Mu’tazillah mempunyai lima dokterin yang dikenal dengan al-usul al- khamsah. Berikut ini kelima doktrin aliran Muktazillah.[9]

  1. a.             At-Taauhid (Tauhid)

Ajaran pertama aliran ini berarti meyakini sepenuhnya bahwa hanya Allah SWT. Konsep tauhid menurut mereka adalah paling murni sehingga mereka senang disebut pembela tauhid (ahl al-Tauhid).

  1. b.             Ad-Adl

Menurut aliaran Muktazillah pemahaman keadilan Tuhan mempunyai pengertian bahwa Tuhan wajib berlaku adil dan mustahil Dia berbuat zalim kepada hamba-Nya. Mereka berpendapat bahwa tuhan wajib berbuat yang terbaik bagi manusia. Misalnya, tidak memberi beban terlalu berat, mengirimkan nabi dan rasul, serta memberi daya manusia agar dapat mewujudkan keinginannya.

  1. c.              Al-Wa’d wa al-Wa’id (Janji dan Ancaman).

Menurut Muktazillah, Tuhan wajib menepati janji-Nya memasukkan orang mukmin ke dalam sorga. Begitu juga menempati ancaman-Nya mencampakkan orang kafir serta orang yang berdosa besar ke dalam neraka.

  1. d.             Al-Manzilah bain al-Manzilatain (posisi di Antara Dua Posisi).

Pemahaman ini merupakan ajaran dasar pertama yang lahir di kalangan Muktazillah. Pemahaman ini yang menyatakan posisi orang Islam  yang berbuat dosa besar. Orang jika melakukan dosa besar, ia tidak lagi sebagai orang mukmin, tetapi ia juga tidak kafir. Kedudukannya sebagai orang fasik. Jika meninggal sebelum bertobat, ia dimasukkan ke neraka selama-lamanya. Akan tetapi, sikasanya lebih ringan daripada orang kafir.

  1. e.              Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Perintah Mengerjakan Kebajikan dan Melarang Kemungkaran).

Dalam prinsip Muktazillah, setiap muslim wajib menegakkan yang ma’ruf dan menjauhi yang mungkar. Bahkan dalam sejarah, mereka pernah memaksakan ajarannya kepada kelompok lain. Orang yang menentang akan dihukum.

Kemunduran Aliran Mu’tazilah

Sesudah peristiwa mihnah, pengingkaran Mu’tazilah terhadap kesucian al-Qur’an, penyiksaan dan pemaksaan yang mereka lakukan, ditambah lagi ketamakan mereka pada harta, pangkat dan kedudukan, ummat islam menjadi benci kepada kelompok ini. Dan ketika masa khalifah al-Mutawakkil tiba (234H), beliau lantas mengumumkan ketidaksahan pendapat mengenai kemakhlukan al-Qur’an. Beliau mengambil keputusan ini karena melihat besarnya sikap penolakan mayoritas masyarakatnya terhadap mazhab mu’tazilah, serta berbagai macam polemik negara yang disebabkan oleh hal ini.

  1. E.     Maturidiah

Kemunculan Aliran Maturidiah

Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap kaum Asy’ariyah. Oleh karena itu pendapat-pendapat dari kaum Maturidiah banyak memiliki persamaannya dengan Asy’ariyah. Nama “Maturidiah” diambil dari nama pendirinya yaitu Abu Mansur Muhammad bin Muhammad al-Maturidi. Al-Maturidi dilahirkan di Maturid, Samarkand pada pertengahan abad ketiga hijriyah dan wafat si Samarkand pada Tahun 333 H.[10] Ajaran-ajaran dan riwayat hidupnya tidak banyak dikenal orang. Ajarannya tidak banyak dibukukan atau ditulis orang. Diantara sekiian banyak buku yang membahas mengenai keagamaan, tidak ada yang memuat keterangan-keterangan al-Maturidi, mengenai Maturidi sendiri masih belum dicetak dan tetap dalam bentuk naskah seperti; kitab At-Tauhid, dan kitab Ta’til al-Qur’an. Diperkirakan, aliran ini muncul ketika aliran Mu’tazilah mulai menurun popularitasnya. Pada masanya, al-Maturidi banyak menyaksikan perdebatan-perdebatan antara fiqh Hanafiyah dengan Fiqh Syafi’iah, di lain pihak juga perdebatan yang terjadi antara para ahli fiqh dan ahli hadits dengan aliran Mu’tazilah. Melihat kondisi tersebut al-Maturidi berusaha labih keras lagi untuk mempelajari teologi Islam. Dalam pandangan keagamaan dan sistem teologi, al-Maturidi banyak menggunakan rasio. Karena dia dikenal sebagai pengikut Abu Hanifah. Dapat dikatakan bahwa pikiran-pikiran dari al-Maturidi adalah penguraian yang lebih meluas dari pikiran-pikiran Abu Hanifah.

Tokoh-tokoh Maturidiah

Tokoh-tokoh aliran Maturidiah terdiri dari para pengikut aliran Fiqh Hanafiah. Diantara tokoh-tokoh Maturidiah adalah: al-Bazdawi, At-Taftazani, An-Nasafi dan Ibnul Hammam. Diantara tokoh-tokoh tersebut yang paling terkenal adalah al-Bazdawi. Sehingga dalam aliran Maturidiah terdapat dua golongan, yaitu golongan Maturidiah Samarkhand yang dipelopori oleh Abu Mansur al-Maturidi dan golongan Maturidiah Bukhara yang dipelopori oleh Abu Yusuf Muhammad al-Bazdawi.

Ajaran-ajaran Aliran Maturidiah

Walaupun aliran Maturidiah dan Asy’ariah timbul sebagai reaksi dari aliran Mu’tazilah, namun teologi yang ditimbulkan oleh al-Maturidi ada perbedaannya dengan al-Asy’ari.
Mengenai sifat Tuhan, aliran Maturidiah banyak memiliki kesamaan dengan ajaran Asy’ariyah. Menurut Maturidiah, Tuhan memiliki sifat-sifat, Tuhan mengetahui bukan dengan zat-Nya melainkan dengan kekuasaan-Nya.

Mengenai perbuatan manusia, aliran Maturidiah sependapat dengan Mutazilah. Mereka mengatakan bahwa manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Jadi, paham Maturidiah dalam hal ini sejalan dengan paham Qodariyah atau Mu’tazilah, bukan paham Jabariyah atau Kasb Asy’ariyah.[11]

Berkaitan dengan kedudukan al-Qur’an, aliran Maturidiah tidak sependapat dengan Mu’tazilah. Maturidiah berpendapat bahwa al-Qur’an tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim. Begitu pula mengenai kewajiban Tuhan mewujudkan perbuatan, menurut al-Maturidi perbuatan Tuhan itu tidak bisa dikatakan wajib karena perbuatan wajib itu mengandung unsur paksaan, sedangkan perbuatan Tuhan itu jika karena terpaksa bertentangan dengan sifat iradah-Nya. Tetapi al-Maturidi percaya bahwa Tuhan berbuat tidak sia-sia. Dalam persoalan dosa besar, al-Maturidi sepaham dengan al-Asy’ari, dia menyatakan bahwa orang yang berdosa besar masih tetap mukmin. Al-Maturidi juga menolak paham posisi diantara dua posisi seperti Mu’tazilah. Mengenai janji dan ancaman, aliran ini sepaham dengan Mu’tazilah. Janji dan ancaman itu kelak akan terjadi. Demikian juga dalam hal anthropomorphisme (al-tajassum) al-Maturisi sejalan dengan Mu’tazilah. Maturidiah tidak sepaham dengan Asy’ariah yang mengatakan bahwa ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan mempunyai bentuk jasmani tak dapat diberi interpretasi atau ta’wil. Menurutnya tangan Tuuhan, wajah Tuhan dan sebagainya mesti diberi aerti Hajazi atau kiasan bukan dalam arti ta’wil.

BAB III

PENUTUP

Syiah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini Ali bin Abi Talib dan keturunannya sebagai pemimpin Islam setelah Nabi saw. wafat

Khawarij berarti orang-orang yang keluar barisan Ali bin Abi Thalib. Golongan ini menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang keluar dari rumah dan semata-mata untuk berjuang di jalan Allah. Meskipun pada awalnya khawarij muncul karena persoalan politik, tetapi dalam teapi dalam perkembangannya golongan ini banyak berbicara masalah teologis

Aliran Murji’ah bisa bernama Murji’ah karena dalam prinsipnya mereka menunda persoalan konflik antara Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan kaum Khawarij pada hari perhitungan kelak.

Aliran Qadariyah yang menganggap bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya dan bukan nberasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Allah. Dalam sejarah perkembangan teologi Islam, tidak diketahui secara pasti kapan aliran ini muncul

Nama Jabariyah pada aliran Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung sarti memaksa. Smenurut al-Syahrastani, Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah.

Aliran Mu’tazilah muncul sebagai reaksi atas pertentangan antar aliran Khawarij dan aliran Murji’ah mengenai persoalan orang mukmin yang berdosa besar.

Ahlussunah waljama’ah dalam pengertian umum adalah lawan kelompok syiah.Dalam pengertian ini, Mu’tazilah sebagaimana juga  Asy’ariya masuk dalam barisan sunniSunni dalam pengertian khusus adalah mahzhab yang berada dalam barisanAsy’ariyah dan merupakan lawan Mu’tazilah. Selanjutnya, term Ahlussunah banyak dipakai setalah munculnya aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah, dua aliran yang menentang ajaran-ajaran Mu’tazilah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad,1998.  Tauhid Ilmu Kalam. Bandung : CV. Pustaka Setia.

Murad, Musthafa, 2007. Kisah Hidup Ali Ibn Abu Thalib, Jakarta : Dar al-Fajr.

Qardhawi, Yusuf. 1402. Ash-ShahwahtuI-Islamiyyah bainal-Juhud  wat-Tatharruf. Kairo: At-Taqwa.

Salihudin A. Nasir,1991.Pengantar Ilmu Kalam.  Jakarta : Rajawali.

Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini, 2007. Peletak Dasar Teologi Rasional Dalam Islam. Jakarta: Erlangga.

Yusran, Asmuni, 1982.  Aliran Klasik Dalam Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.

http://id.wikipedia.org/wiki/Khawarij

http://miazart.blogspot.com/2011/02/aliran-syiah-khawarij-murjiah-qadariyah.html


[1].  Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini, 2007. Peletak Dasar Teologi Rasional Dalam Islam, Jakarta: Erlangga, hal. 41.

[2].  Ibid hal.41.

[3] Salihudin A. Nasir,1991.Pengantar Ilmu Kalam.  Jakarta : Rajawali. Hal.67

[4].  Ibid hal. 68

[5]. Qardhawi, Yusuf. 1402. Ash-ShahwahtuI-Islamiyyah bainal-Juhud  wat-Tatharruf. Kairo: At-Taqwa.  Hal. 67

[6].  Ibid hal. 69.

[7]. Yusran, Asmuni. 1982.  Aliran Klasik Dalam Islam, Surabaya: Al-Ikhlas. Hal. 66.

[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Khawarij,diakses  pada tanggal 23 Oktober 2012 pukul 20.12 WIB

[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Khawarij, diakses pada tanggal 23 Oktober 2012 pukul 20.12 WIB

[10].  Ahmad, Muhammad,1998.  Tauhid Ilmu Kalam, Bandung : CV. Pustaka Setia hal. 69.

[11]. Ahmad, Muhammad,1998.  Tauhid Ilmu Kalam, Bandung : CV. Pustaka Setia hal 76

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s